Brrr...dingin! Berkali-kali, saya membetulkan posisi outer tanpa kancing yang tertiup angin. Sedikit salah kostum. Harusnya saya mengenakan jaket yang lebih tebal, rutuk saya dalam hati.
Belum genap jam 7 pagi, dan sepeda motor yang dikemudikan pak suami telah membelah jalanan perkampungan warga di lereng Gunung Sumbing. Dusun Butuh, Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Magelang yang biasa dikenal sebagai Nepal Van Java menjadi tujuan perjalanan kami pagi itu.
Semakin lama semakin banyak kelokan dan juga tanjakan yang harus dilewati. Meski begitu, apa yang bisa saya lihat di kanan-kiri jalan justru semakin menarik.
Hamparan tanaman daun bawang terlihat paling dominan, meskipun banyak juga lahan yang terisi jenis tanaman sayur yang lain, seledri misalnya. Walau hidung tertutup masker, tapi lamat-lamat saya masih bisa mencium aroma khas berbagai tanaman sayur tadi.
Breb...breb...ngiiing....telinga mulai berdengung. Gejala normal saat berada di tempat yang cukup tinggi. Untung cuma sebentar, dan kemudian kembali normal
Menginjakkan Kaki di Nepal Van Java
![]() |
Teras Nepal, lokasi yang cukup strategis untuk menatap kokohnya Sumbing di kejauhan |
Masih pagi, dan belum begitu banyak pengunjung. Sebentar saya melepas masker dan menarik napas dalam, membiarkan area wajah dikelilingi udara pegunungan yang bersih. Menikmati kemerdekaan, meski cuma sebentar.
Tak jauh dari parkiran motor, terpasang papan informasi mengenai spot-spot yang bisa sambangi pengunjung. Ada Teras Nepal, Taman Depok, Teras Masjid Baituttaqwa, Tangga Naga, Gapura Pendakian, dan juga Gardu Pandang Punthuk Nepal.
Ini pertama kalinya kami ke Dusun Butuh, dusun yang mendapat julukan Nepal Van Java. Disebut demikian karena pola pemukiman warga di wilayah ini mirip dengan tata hunian di pegunungan Himalaya, Nepal.
![]() |
Suasana pedesaan dan tata hunian di kaki gunung Sumbing, menjadi daya tarik utama wisata Nepal Van Java |
Di depan mata, jelas terlihat rumah dengan cat-warni dan dibangun berundak mengikuti kontur tanah di lereng Gunung Sumbing. Sangat unik, dan terlihat cantik di kamera! Inilah yang kemudian menjadi icon kawasan kampung Butuh sebagai destinasi wisata yang Instagramable.
Bisa jadi semua spot bisa menghasilkan foto-foto dengan background alam menawan. Tapi bukan itu saja yang saya cari. Saya butuh lebih dari sekedar tempat untuk berfoto yang kemudian di upload di medsos.
Saya kangen asrinya suasana pegunungan, syahdunya kabut, dan hawa yang dingin, tapi segar. Dan saya yakin, Nepal Van Java punya itu semua.
Sebelum matahari meninggi, bergegas kami ke meja pembelian loket, membeli 2 buah karcis dengan harga 8 ribu rupiah/lembar. Kalau saya tidak keliru, tempat ini terbuka untuk wisatawan setiap hari mulai pukul 7 pagi sampai 5 petang
Untuk bisa menjangkau beragam spot yang ada di tempat ini, setidaknya ada dua opsi yang mesti kami pilih, jalan kaki atau menggunakan jasa ojek kendaraan motor dengan tarif @35.000. Puluhan motor dengan mas-mas berseragam rompi warna jingga siap mengantar para pengunjung ke semua spot yang ada.
Kami milih opsi pertama, jalan kaki. Bisa jadi pilihan yang lebih melelahkan, tapi lebih leluasa untuk saya pribadi. Terlebih, untuk saya yang sering berhenti sekedar mengambil foto. Ada prinsip yang masih saya pegang teguh, sudah niat, dilakoni sak kuate.
![]() |
Kalau letih berjalan, banyak warung-warung makan yang berdiri di sepanjang rute. Bisa untuk mengisi "amunisi" sebelum melanjutkan perjalanan lagi |
Kalau capek ya istirahat, kalaupun nggak semua spot bisa dijangkau, ya ga apa-apa. Intinya, dibikin santai. Rute yang harus saya lewati kebanyakan sama dengan jalur pengunjung yang menggubakan jasa ojek. Jalan kecil bersemen menyerupai gang, yang hampir semuanya menanjak.
Rute mulai berubah setelah sampai di Gapura Pendakian. Diantara semua, rute ini yang paling menarik untuk saya. Sempat saya teringat pengalaman waktu gagal naik ke Telomoyo beberapa bulan silam. Ada kemiripan diantara keduanya.
![]() |
Tanaman kentang, daun bawang, brokoli menjadi tanaman sayur dominan. Bisa jadi jenis tanaman akan berubah, menyesuaikan musim |
Lahan pertanian hijau sejauh mata memandang, aktivitas para petani, dan semuanya menarik untuk dinikmati. Mengamati, bertegur sapa dengan warga lokal yang tengah berangkat atau sedang mengolah lahan, mendatangkan keasyikan tersendiri.
![]() |
Ingat semangkuk sop, mie rebus..atau telur dadar? 😊😊 |
![]() |
Tak jauh dari rumah, biasanya sang pemilik juga sekaligus menggelar lapak dagangan yang berupa sayur mayur, kerupuk, kopi |
Seperti di kebanyakan tempat wisata, banyak pula pedagang yang menjajakan oleh-oleh di Dusun Butuh ini. Hampir semua barang dagangan adalah hasil pertanian seperti wortel, daun bawang, brokoli, kentang, dan juga beberapa jenis sayuran lain. Selain itu, ada pula keripik singkong, dan juga kopi.
Membeli oleh-oleh atau tidak, itu pilihan. Tapi di Nepal Van Java ini, rugi rasanya kalau datang dan pulang tanpa membawa buah tangan.
Wuohh, menarik tenan.
ReplyDeleteSbnrnya pas ke solo Trakhir itu, aku udh plan mau kesini :D. Tp keterbatasan waktu, akhirnya batal. Padahal om udh wanti2, harus mampir Krn baguuus :D.
ReplyDeleteAku malah mikir kok ya kayaknya enak nginep semalam di sini :D. Viewnya cakeep memang.
Tiap lihat dusun Nepal Van Java ini aku kok inget lagu "ditinggal pas sayang2 e" soale tau dusun butuh melalui video dg backsound lagu tersebut
ReplyDelete